Mungkin Mereka Membutuhkanmu

Oleh: Siti Umul Barokah – Kesumma Immsi keputrian 1432 H

Tak ku duga, ternyata liburan kali ini membuatku membuka mata atas semua yang telah ku alami selama ini. Tak terasa, dua tahun sudah aku duduk di bangku perkuliahan. Ya, di STAN. Sebuah sekolah tinggi yang sepertinya menjadi dambaan tak sedikit orang. Ya, tak sedikit, namun bukan berarti banyak. Karena tak sedikit pula yang tak tahu, bahkan tak mengerti tentang keberadaan STAN itu sendiri. Baru ketika ku katakana Mr. G*y*s yang notabene adalah kakak kelas kita, baru mereka tahu tentang keberadaan STAN. Miris memang.

Seperti sebuah ritual yang harus dilaksanakan, ketika ramadhan dan syawal tiba, maka buka bersama dan silaturrahmi sepertinya seperti menjadi sebuah kelaziman. Mulai dari teman SD, SMP, SMA, sampai teman-teman kuliah. Tak ada yang perlu disayangkan, ataupun dipertanyakan dari acara-acara ini, karena memang acara itu baik. Demi menyambung silaturrahmi yang mungkin sempat terputus karena kesibukan yang berbeda dari masing-masing orang tentunya.

Dakwah Itu…

Oleh: Rizki ananda lubis

Dakwah.. semua orang dapat dengan gampang terjun di dalamnya namun sulit untuk tetap bertahn. Yahhh, ibarat berenang, semuanya butuh pembelajan. Kita harus belajar gaya berenang yang penggunaannya disesuaikan tipe arus, mampu mengatur nafas untuk dapat bisa bertahan dalam air dan mampu memprediksi tenaga yang dibutuhkan untuk mengarungi suatu perairan hingga sampailah kita pada tujuan kita. Dakwah pun seperti itu, seorang dai harus mendidik diri sendiri baik dalam segi penambahan ilmu maupun metode dakwah yang disampaikan agar target dari amanah tersebut dapat memenuhi harapan. Penyesuaian cara penyampaian pun harus disesuaikan dengan orang yang dijadikan target dakwah. Dan agar apa yang disampaikan dapat diterima, seorang Dai juga harus tahu kapasitas kemampuannya sehingga ia dapat menyampaikan dakwah sedalam pemahamannya terhadap suatu hal dan tetap melanjutkan pendidikan terhadap diri agar khazanah ilmu yang dimilikinya bertambah. Hingga pada akhir jalan dakwahnya sampailah ia pada tujuan yang diharapkan, meraih RIDHO ALLAH. Itulah sedikit gambaranku tentang dakwah.

Mahasiswa STAN, bisa apa?

Oleh: Siti Afina Zahrah

“Dengan segala kelebihan yang kita miliki, rasanya malu bila kita tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita lakukan saat ini”

Sekolah gratis. Buku gratis. Jaminan kerja. Mungkin itulah sebagian kecil kenikmatan yang kita—mahasiswa STAN—dapatkan. Dengan segala kecukupan ini, apakah yang telah kita hasilkan? Sudahkah kita menjadi seseorang yang tahu balas budi kepada masyarakat yang telah membiayai sekolah kita?

Selama ini, mungkin kita hanya fokus dengan diri kita sendiri. Bagaimana menyukseskan diri sendiri. Bagaimana agar IP kita tetap bagus. Serta hal-hal lain yang notabenenya hanya akan berpengaruh pada diri kita sendiri. Sah-sah saja berpikir seperti itu, tapi hidup bukan hanya untuk diri sendiri, kan?

Muslim STANers for Family, Nation, and Islam

Oleh: Rudiyanto, Bendahara IMMSI 2.0

Apa kewajiban Muslim STANers?
Apa pandangan mahasiswa lain/masyarakat tentang Muslim STANers?
Apa yang harus kita lakukan untuk keluaarga, Negara, dan Islam; selaku Muslim STANers?

Semua pertanyaan itu harus kita jawab kemudian kita renungkan dan kta implementasikan. Muslim STANers mempunyai kewajiban yang utama yaitu menjaga hubungan dengan Allah dan menjaga hubungan dengan sesama manusia serta lingkungan sekitar. Untuk menjaga hubungan dengan Allah, kita harus dapat menguatkan iman, islam, dan ihsan. Iman tidak hanya sekedar “percaya” tetapi harus dibuktikan dengan akhlak yang mulia. Hal ini sesuai dengan hadis Rosulullah SAW “iman bukanlah dengan angan-angan, akan tetapi apa yang bersemayam dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan.” Selain menguatkan iman , kita harus dapat menjalankan islam secara kaffah (menyeluruh).

Untuk Negeri

Oleh: Kartiyasa Arifta Putri

Pengalaman menjadi mahasiswa, apalagi yang merantau di kota lain, tentu merupakan pengalaman yang paling mengesankan bagi pelajar yang pernah mengalaminya. Orang-orang antusias menunggu saat kapan mereka akan segera pulang ke rumah setelah setahun tidak berjumpa dengan keluarga. Tidak sedikit dari kita yang menanti-nanti bulan Ramadhan, apalagi jika bukan untuk menanti momen pulang-kampung.

Selain menunggu adzan maghrib bersama keluarga, tarawih dan shalat ‘id bersama, silaturahmi dengan kawan dan kerabat, ada satu hal lagi yang sangat dekat dengan bulan Ramadhan. Yaitu berkirim pesan singkat untuk maaf-maafan. Begitu kentalnya tradisi memaafkan pada bulan Ramadhan di Indonesia, sampai-sampai di akhir bulan berbagai media selalu menyiarkan kalimat ‘Minal Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir Batin’. Apalagi dengan saluran layanan pesan singkat, ramai dengan puluhan ribu pesan maaf di hari raya.

Sebenarnya, apa yang membuat orang-orang saling berlomba mengirim sms permohonan maaf, bahkan hingga menyempatkan diri untuk googling kata-kata mutiara? Tentu saja, karena kita semua merasa pernah berbuat salah dan ingin dimaafkan! :)

Masa Muda,Masa Membangun Negeri

Oleh: Deta Triyawan, Kepada Bidang Pendidikan IMMSI 2.0

Kata kebanyakan orang masa muda adalah masa yang indah dan masa yang penuh dengan kenangan.Benarkah demikian?

Ada banyak gambaran pada setiap orang yang menilai mengenai apa sih masa muda.Tentu saja,setiap orang juga memiliki penilaian dan subjektivitas dalam mengartikan masa muda itu sendiri.Untuk sebagian orang masa muda itu cenderung dengan masa “senang2” karena mumpung masih muda, mumpung masih bertenaga. Ada yang menganggap masa muda itu adalah masa “banyak maksiat” karena menganggap masa tua itu adalah masa “bertobat”nya (na’udzubilah).

Kenyataannya Saya lah yang Berhutang

Oleh: Asri Shaliha

Pagi itu tidak biasa, ba’da subuh tidak ada lagi acara malas-malasan apalagi ketiduran. Busa tebal berpegas yang berlapis kain katun ungu itu tidak lagi menarik bagi Amira. Bahkan bantal empuk bulu angsa pemberian eyang yang terus memanggil tidak juga dilirik sedikitpun. Amira bersiap-siap dan melangkah mantap ke kampusnya, Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan.
Amira langsung menuju taman di antara gedung I dan gedung J yang dinaungi dua pohon Trembesi besar, ada open recrutiment untuk menjadi pengurus organisasi keputrian Himpunan Mahasiswa Islam Akuntansi (HIPMIA) pagi itu

Hal Baik, Niat Baik, Cara Benar

Oleh: Alin Ulfana

“Pakai teknik Squidward! Pakai teknik!”
“Begini. Begini. Begini!” Spongebob mempraktikkan cara membuat gelembung sabun.

Ya! Itu adalah cuplikan percakapan Spongebob kepada Squidward saat mereka bermain gelembung sabun. Meski kelakuan mereka sedikit konyol, bahkan kadang tak masuk akal, coba perhatikan lagi perkataan Spongebob tersebut. Saat itu Squidward tidak bisa membuat gelembung sabun. Ia tidak tahu bagaimana cara membuat gelembung sabun.

Teruslah Bergerak!

Oleh: Afifah Azzahra

Bahwa hidup adalah soal pilihan. Pilihan untuk beriman atau mengikuti jalan orang-orang kafir. Pilihan untuk sekadar memiliki atau berbagi. Pilihan untuk diam atau bergerak, dan berjuta macam pilihan terbentang lainnya.

Memilih butuh pertimbangan matang. Akal sehat dan nurani mesti digunakan. Maka kita, haruslah memilih jalan yang memberikan kebahagiaan hakiki. Bukan sekadar ilusi. Maka kita, haruslah memilih jalan yang terbentang indah di akhir, meski pada awalnya penuh onak duri: tajam, menyakitkan. Yakinkan diri, keindahan dan kesempurnaan di akhir sana tak terperi, tak terbayang oleh fikri. Memilih untuk beriman, insyaAllah kan membahagiakan.

SEDIKIT, TAPI (SEMOGA) CUKUP BERARTI UNTUK NEGERI

Oleh: Didit Muspratomo

Apa yang belum di capai kebanyakan rakyat dari bangsa besar ini adalah kemerdekaan. Kemerdekaan dalam arti sesungguhnya. Memang benar NKRI sudah berdiri 66 tahun lamanya. Berbagai macam bentuk penjajahan sudah kita alami bersama. Negara ini tetap berdiri tegak menatap cakrawala dunia. Ini patut kita syukuri, mengingat saat ini banyak negara-negara yang masih ‘sakit’, melawan kediktaktoran saudaranya sendiri, dan menghadapi hujaman bom dan tembakan dari negara tetangga untuk sebuah kata merdeka. Bahkan tahun ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, laju perekonomian kita mengalahkan laju perekonomian negara bekas penjajah kita dulu, Belanda. Maka nikmat Allah yang mana lagikah yang kita dustakan.

66 tahun negara ini merdeka ternyata belum cukup untuk mendewasakan dan memerdekakan rakyat Indonesia itu sendiri. Refleksi ini pelan-pelan saya sadari melihat kondisi kebanyakan anak didik, penegak hukum, mahasiswa, guru, dosen, pegawai, karyawan, pedagang, petani, politikus Indonesia yang masih terbelengku hatinya, terpenjara dalam kehidupan bernegara kita.

Pelajar dan mahasiswa terpenjara oleh sistem pendidikan yang mengkultuskan nilai ujian